Kamis, 14 Juni 2012

That Touching Journey, Sukabumi We’re In Love


Persiapan Sebelum berangkat, saat masih bersemangat.




Tidak pernah saya sangka bahwa saya akan mendaki  gunung (yang sesungguhnya karena sebelumnya hanya sekedar naik dan tidak banyak mendaki). Awalnya saya berpikir untuk apa, akan tetapi setelah merasakan sensasinya, saya merasa setidaknya kita perlu merasakan pengalaman mendaki gunung satu kali seumur hidup. Ini merupakan pengalaman pertama saya mendaki track yang tadinya saya anggap tidak mungkin, meskipun bagi beberapa orang ini merupakan hal yang biasa, tapi saya ingin berbagi hal-hal yang luar biasa dari perjalanan saya ini.
Siang itu di tengah mendung saya berangkat dari rumah dalam perjalanan, hujan deras. Saya pun melakukan simulasi langsung-jika nanti dalam pendakian hujan-sambil menuju titik keberangkatan kami. Rempong memang, akan tetapi bawaan yang banyak ini lebih mengarah pada antisipasi. Sesampainya di titik kumpul, rekan-rekan dari luar kota sudah banyak yang terlelap, maklum hujan meninabobokan sekali. Hingga 6 jam kemudian kami baru dapat berangkat. Beruntung perempuan mendapatkan bus salah satu BUMN yang nyaman dengan fasilitas terminal, karaoke dan tv flat, meskipun dalam hati saya mempertanyakan kesetaraan gender karena rombongan laki-laki  menggunakan tronton.
Perjalanan tidak lancar, karena perbaikan jalan serta cuaca yang mengharuskan kami berhati-hati menuju kota di Jawa Barat. Pukul setengah satu pagi kami tiba di camp-yang telah tertata rapi, siap disinggahi, tadinya saya sudah underestimate karena merasa kurang tertantang, tetapi setelah ini justu saya merasa amat sangat(pemborosan kata mode on) tidak percaya. Saya berada dalam kelompok 6 dengan  14 orang anggota. Sebelumnya kami sempat berkenalan sambil menunggu di titik keberangkatan sambil  memperhitungkan persiapan dan logistik kami selama 4 hari ke depan. Tidak disangka, perbekalan kami lebih dari cukup untuk mendirikan warung, hha.
Pagi hari kedua, kami  sarapan bersama dengan perbekalan yg telah disiapkan oleh panitia (saya sempat diledek rekan setenda saya, Arti (Namanya Tri, tapi gaulnya Arti atau Menjadi Lebih Berarti-> fb-nya  dan Sehaa (yang tidak mau dipanggil Siti-.- dan ejaan panggilan gaulnya baru saya ketahui saat saya menemukan cincinnya yang sempat hilang dan terselip di tas Adit)karena pernyataan saya yang mengira makan malam kami setelah sampai adalah makan terlezat terakhir selama 4 hari ke depan-ternyata masih ada sarapan ini).
Kejutan Pertama
Kami menunggu seorang anggota kami yang kami kira hanya beberapa tahun lebih senior dari kami, tapi ternyata, Beliau seusia dengan orang tua kami dan seterusnya  kami memanggilnya dengan sebutan Ayahanda/Papi Imam. Kelompok kami mempercayakan Adit-yang kali ini merupakan pengalaman pertamanya dalam mendaki gunung sebagai Ketua kelompok. Setelah upacara pembukaan, Kami bersiap untuk mendaki didampingi oleh seorang pemandu sebut saja Mr. Arja (Arti, 2012 Kak Arja sangat irit bicara.Tapi dalam saat bicara, hhe-selamat ya Adit akan petuah dari Kak Arja cynnn) setelah kami melakukan pembagian logistik dengan menambah serta mengurangi beberapa perlengkapan yang diperlukan dengan meminjam dan menitipkan kepada penyelenggara dan mengatur formasi posisi barisan. 
Kejutan Kedua
Baru sekitar 100 meter mendaki, kami sudah lelah dan haus, tapi seorang teman mengingatkan agar jangan terlalu banyak minum karena dapat mebuat lemas. Saat itu, area yang kami lalui masih dapat dilalui oleh motor, sehingga beberapa kali kami berhenti untuk berbagi jalur sembari berceletuk ringan seperti
“awas motor”
Disambung “awas busway”
Hingga “awas kereta”à bahkan kemudian terdengar suara kereta (yang membuat kami heran dan tertawa akan kebetulan itu karena kami sendiri tidak tahu darimana sumber suara kereta itu).
Tidak beberapa lama, kami mulai lemas sambil menunggu anggota yang masih tertinggal –dari sini kami tahu bahwa management pembagian logistik kami masih perlu diperbaiki karena anggota kami yang tertinggal meskipun bertatoo tapi tetap saja, manusia yang bawaannya melebihi kapasitas maksimal daya angkut dari berat tubuhnya. Saat saya mencoba mengangkat satu tas yang dibawa Mas Bamon saja, hanya terangkat beberapa senti (Maafkan kami Mas Bamon, kalo nggak kami kasi Pa Ce ni, hihi).
Kami berhenti kembali untuk memperbaiki management packing dan lebih membagi rata yang diangkut. Kami sendiri sempat bingung karena masing-masing kami telah membawa secara poll-pollan (semaksimal mungkin) yang kami bisa. Alhamdulillah penduduk memberikan kami bambu untuk membantu mengangkut beberapa tas. Serta kami merasa tertegun saat melihat beberapa Bapak paruh baya mengangut kayu gelondongan yang panjangnya sekitar 2 meter dengan jumlah minimal 3 buah dengan telanjang kaki menuruni gunung, Subhanallah! Pelajaran untuk bersyukur.
Kejutan Ketiga
Jalan yang kami lalui sangat beragam, pada pagi hari kami masih bisa menyaksikan pemandangan yang indah, tetapi kemudian kami mulai memasuki hutan. Perjalanan diwarnai oleh gelak tawa yang tentunya sangat menguras energi, karena Arif-rekan dari NTB- sering berkomentar lepas yang membuat kebanyak kami terpikal-pikal (saking banyaknya kekocakan Arif, saya jd lupa apa saja yang ia komentari).  Istirahat pertama kami yang cukup lama berlangsung untuk jeda shalat Jumat. Tadinya, kami hanya berniat untuk mencicipi perbekalan berupa jelly, roti dan kue-kue kering, karena memikirkan kerepotan saat memasak. Akan tetapi mencium aroma mie instan yang dimasak kelompok lain, kami pun memutuskan untuk memasak. Saat itulah kami mengetahui ada rekan kami yang ternyata telah siap dan lebih berpengalaman dalam soal mendaki gunung, namanya Khairul Anwar.
Kejutan Keempat
Kami telah mendapatkan informasi bahwa pukul 1 siang akan turun hujan. Tepat sekali, karena terlalu asik merasakan sensasi memasak nasi dan mie instan sebagai lauk dengan air aliran gunung (perbekalan air kami telah habis di jalan-kami hanya membawa 4 buah botol air 1,5 liter dan 3 botot air 600 ml) tidak menyadari bahwa waktu telah menunjukkan pukul 1 siang  tiba-tiba hujan turun, kami yang baru makan beberapa suap dengan 1 piring/mangkuk untuk 3 orang, menjadi tidak konsentrasi makan dan menyelamatkan tas dan diri dengan mengeluarkan kompi/ponco. Motivasi saya saat itu, jangan sampai saya sakit dan menyusahkan orang lain, terutama rekan sekelompok.
Kami pun melanjutkan perjalanan setelah mencuci piring a la kadarnya dengan rasa khawatir karena pacet mulai pedekate pada kami. Dari  kejauhan terdengan suara monyet bersahutan, entah menyambut atau justru keberatan dengan kehadiran kami. Sepanjang perjalanan, instruktur memperkenalkan tanaman yang dapat kami konsumsi untuk survival belakangan kami tahu nama tumbuhan itu adalah begonia (kemudian menjadi bahan komentar Arif selanjutnya), rasanya seperti jambu air/belimbing, cukup untuk menyegarkan penglihatan.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan sepanjang perjalanan pendakian yaitu agar kita tetap waspada melihat jalan yang akan kita lalui, maklum saja hutan di gunung penuh kejutan. Menanjak dan menurun diwarnai dengan batang yang tumbang, akar pepohonan yang membuat jebakan batman, adapula tumbuhan berduri, belum lagi penyempitan jalan, jalan yang licin, berbatu, berlumut dilengkapi dengan hujan. Jangan sampai lupa membawa sepatu yang menunjang, kompi/ponco, golok, obat-obatan (termasuk anti pacet-selain dengan tembakau dapat menggunakan antiseptik pembersih tangan atau menggunakan pakaian tertutup) serta perbekalan yang cukup (alat memasak seperti kompor baik paraffin, gas atau spirtus dan nesting.
Kejutan Kelima
Saya kira kami akan menemukan tanah lapang di tempat kami akan menginap selanjutnya, ternyata tidak. Kami benar-benar perlu membersihkan arena hutan agar kami dapat bermukim. Setelah memilih tempat yang dirasa nyaman, kami membangun tenda dekat dengan sumber air. Sementara tanah kian becek. Kami sempat memindahkan lokasi tenda karena instruktur khawatir akan adanya pohon yang batangnya tersangkut di atas pohon dekat tenda kami (belakangan Arif menyesal karena telah memindahkan tenda karena batang pohon itu tidak jatuh -.-). Hujan yang turun kembali membuat kami kembali harus berada dalam tenda, di situlah saya berkenalan dengan Agam Imam-seorang pakar Ilmu Politik yang kemudian menceritakan ke-shock-annya akan kegiatan kami ini karena ia dan beberapa rekan lain menyangka perjalanan yang akan dilaluinya betul-betul jalan-jalan, bukan pendakian.
Pukul 4 sore kami selesai membangun tenda. Sumber air yang ada, keruh. Tetapi tidak menghalangi semangat kami untuk mengkonsumsi air tersebut dan kami menunggu beberapa waktu agar kotoran dalam air tersebut mengendap kemudian memasaknya, hmm.. saya baru menyadari bahwa memasak air dipegunungan itu tidak akan melihat bagaimana air mendidih, karena tekanan udara, maka air justru akan menguap.
 Kami bersyukur, hujan berhenti sesaat hingga kami dapat merapikan dan menyusun peralatan kembali, seperti mencari dan membakar kayu (pohon damar sangat  berguna untuk memancing pembakaran, terutama getahnya), memasak untuk malam hari, termasuk menyeduh berbagai jenis minuman instan layaknya di café-karena pilihan yang beragam, mulai dari susu cokelat, jahe susu, kopi susu jahe, kopi susu, teh, teh tarik, sereal cokelat dan jahe, cokelat kopi, kopi hitam, kopi creamer (2 merk yang berbeda)à ada lagi yang kurang tidak ya? Hmm.. silahkan mampir ke tenda kami!, hanya saja untuk perempuan jika terlalu banyak minum masih khawatir jika ingin pipis. Berbekal keyakinan pada Tuhan Yang Maha Esa, kami mencari lokasi strategis dan aman untuk itu, daripada kami sakit karena menahannya. Sore itu, nampaknya tidak ada yang mandi, hihi.
Kejutan Keenam
Rupanya, saat mengutakatik kayu, Mas Bamon-pria bertatoo di tangan dan kaki (mungkin juga ditubuhnya) terkena ujung pisau semi golok yang saya bawa. Alhasil darah bercucuran, namun Mas Bamon tetap tegar sambil mengobati dan menunggu medis datang dan membungkus tangan Mas Bamon dengan pantyliner (Mas Bamon Sadar tidak ya?). Sambil menunggu malam, kami harus memilih pemimpin keseluruhan kegiatan kami selama 3 hari ke depan.
Kami mencalonkan Khairul sebagai kandidat yang kompeten-setelah kami mendengarkan cerita dari Papi Imam dan merasakan fakta soal sikapnya yang memunggut sampah di jalan serta kesiap siagaannya. Saya pun mendapat amanah untuk menjadi jurubicara untuk mengkamapnyekan calon yang kami usung. Kampanye dan pemilihan pimpinan berlangsung setelah magrib. Rupanya saat kampanye tidak seperti yang saya bayangkan karena belum selesai bicara, seluruh kandidat dan juru bicara diharuskan menyelesaikan kampanye mengingat waktu yang terbatas dengan tanah yang semakin dalam memendam kaki dan alas kaki kami.
Sambil menunggu giliran voting, kelompok kami menyanyikan lagu-lagu nasional dan pergerakan dalam mewarnai malam. Hingga kemudian beberapa orang dan kelompok lain tergerak untuk ikut menyanyikan lagu yang sama atau berbeda untuk mencari kehangatan dalam arti kiasan dan sebenarnya. Hasil pemilihan menujukkan Khairul berada dalam peringkat ke-2 dan kemudian dipercaya menjadi koordinator lingkungan hidup untuk rombongan kami, dan Arif menjadi koordinator keamanan (hak pemimpin untuk memilih mereka).
Menu makan malam yaitu tempe goreng, rebusan nasi tentara dengan mie rebus goreng. For sure, its really romantic  dan makan sedikit saja kami sudah merasa kenyang (kecuali Arif mungkin). Sayangnya beberapa di antara kami tidak sempat mencicipi nasi tentara yang dibawa oleh Idham-calon Diplomat. Selama perjalanan kami, Idham 5 kali menanyakan hal yang sama kepada saya yaitu
‘apakah saya membawa baterai cadangan untuk kameranya’, dan saya jawab
‘baterai cadangan saya itu adalah baterai besar, bukan yang kecil’,  tapi hingga  acara hamper selesai, Idham masih saja menanyakan hal yang sama -.-, untung saya tidak menghadiahinya paying cantik akan pertanyaannya yang sama itu-.- . Pukul 10malam kami mulai beristirahat. Dari luar sambil menunggu terlelap saya mendengar suara nyanyain hewan malam diiringi nada dengkuran rekan tenda sebelah (siapa ayo?).

Kejutan Ketujuh
Pak Imam sedang make a wish, Arti Harap2 cemas, hihi
Air yang kami endapkan tadi malam cukup untuk kami masak pagi ketiga, lagi-lagi a la café dengan pilihan favorit kami. Shubuh pada ketinggian 1800 kaki tidak sedingin yang saya bayangkan, mungkin karena saat hujan tubuh kami telah beradaptasi. Kali ini kami kedatangan tamu, Mas Bimo (yang kemudian berpindah rombongan pada siang harinya). Kami menyiapkan sarapan pagi ini yaitu ikan kaleng, kerupuk Palembang. Tempe tadi malam yang masih lezat dan nasi, menghangatkan diri dekat dengan kayu bakar, mengeringkan kaus kaki dekat kayu bakar-bahkan kaus kaki Arif hingga terbakar,  ada pula yang mengganti pakaian (termasuk saya).
Sambil menunggu masakan matang, kami senam pagi kemudian saling berkenalan. Kompak sekali, tanpa paksaan dan penuh kesadaran kami melakukannya. Saat berkenalan itulah kami tahu bahwa Papi Imam berulang tahun, lantas kami menyanyikan lagu happy birthday Pak Imam untuknya diiringi dengan kehadiran dan doa dari penyelenggara dan rekan-rekan dari kelompok lain yang kami manfaatkan untuk berfoto (yah, kami akui kami melanggar peraturan untuk tidak membawa kamera dan siap menanggungnya-khususnya  untuk Idham dan Arti, hhe). Kami lebih mengenal satu sama lain, syukur rekan kami Wulan-yang berprofesi sebagai sekretaris telah pulih dan dapat bergabung dari keadaan sebelumnya yang tidak fit.
Kami mengapresiasi juru masak kami yaitu Atik dan Nesti (kalau berbicara dengan Sehaa sangat cocok karena menggunakan bahasa Arab sesuai dengan kapabilitas dan background mereka) yang tetap tenang dikomentari Khairul akan nasi bubur. Serta, adik termuda kami yaitu Mega yang baru saja menyelesaikan SMA. Berbagai harapan cerita, dan cita-cita kami tuangkan saat itu dalam nasihat dan doa. Diantaranya yaitu rencana sekolah yang dibangun Agam, sidang skripsi saya, rencana pendidikan Arti untuk mewujudkan cita-cita orang tuanya, dan peluncuran mini roket Arif dkk (mas kocak ini rupanya pakar Fisika, jangan salah booo). Kalau rencana untuk menjadi Bupati, nanti saat momentum yang tepat dikeluarkannya ya Mas X.
Kejutan Kedelapan
Setelah sarapan, kami bergegas packing suasana sempat heboh karena satu tas tenda kami sempat tersembunyi. Sementara kami semua sudah memegang senjata-tongkat ajaib- guna menjadi tumpuan untuk memperlancar perjalanan kami tongkat ajaib itu disiapkan oleh Mas Bamon, Khairul, dan Arif (yang namanya belum disebut angkat tangan eeeee!). Seluruh kelompok dikumpulkan untuk mendapatkan materi soal jungle survival terutama makanan yang dapat kami makan. Sebelumnya, kami saling pijat memijat- ini juga momen yang sangat membuat kami senang dan tidak pegal.
 Diantaranya tumbuhan yang dapat kami makan yaitu begonia, pucuk daun reni, buah arbei, batang dalam pohon pisang hutan dan palem, daun pohpohan serta beberapa tips mencari makanan dI hutan. Berdasarkan survei terhadap teman sekelompok yang saya lakukan, tanaman yang paling banyak fans yaitu begonia tetapi perlu dicatat bahwa Adit satu-satunya yang menyebut tanaman itu dengan “bego-nian” -.-.
Biasanya tumbuhan yang dapat dimakan itu berbulu, tidak memiliki warna yang mencolok. Dalam menguji tumbuhan berbahaya bagi tubuh atau tidak dapat dilakukan dengan menumbuknya dan mengoleskan pada tangan sebentar, jika terjadi gatal atau panas, maka jangan dimakan!
Selain itu, untuk mencari air di hutan, dapat dilakukan dengan mencari akar julur (yang sering digunakan tarzan untuk menggantung atau membuat kolam kecil yang dapat diisi air embun. Secara ekstrim jika jauh dari sumber air, dapat menggunakan pembalut perempuan yang ditaruh semalaman). Adapula beberapa tanaman yang dapat dimakan tetapi perlu dimasak dengan garam terlebih dahulu, diantaranya yaitu jantung pisang dan pisang hutan (siap-siap rebutan dengan monyet ya). Selama materi berlangsung, Arif mengomentari kekhawatirannya akan sakit perut terhadap peserta dari kelompok lain yang setiap instruktur bagikan sampel tumbuhan, ia selalu mencoba makan. Tapi setelah mendengarkan bahwa salah satu cara untuk menetralisir zat-zat dari tumbuhan itu setidaknya dengan memakan 5 jenis tanaman, Arif pun diam.
Kejutan Kesembilan
Makan siang kami harus menggunakan tumbuhan yang kami temukan sepanjang perjalanan. Kami menemukan begonia, pucuk reni, pakis, dalam pelepah pisang (rasanya seperti kelapa muda) dan palem. Begonia habis disantap sebelum dimasak. Kami mulai perjalanan menuruni track yang sama sampai hutan tempat kami istirahat Jumat, kami berbelok ke arah lain. Turunan yang cukup curam, ditandai dengan tali untuk berpegangan yang sepertinya telah disiapkan bukan hanya untuk perjalanan kami ini.
Beberapa kali kami harus mengantri karena jalur yang hanya dapat dilalui satu persatu, sambil menunggu, kami bernyanyi dan beradu lagu sedang apa sedang apa sekarang. Jalanan semakin basah, bukan karena hujan tapi karena kami akan melalui sungai. Saat itulah saya terlalu senang, hingga tidak sadar kembali sobeknya celana parasut-satu lapis celana panjang yang saya gunakan- beruntung saya masih menggunakan celana pendek, meskipun tetap saja, rupanya lintah berhasil menyusup di belakang lutut kanan saya. Sesampainya di atas, setelah melewati jembatan dan menanjak mengikuti sumber arus air  saya mengganti celana-ditolong oleh Wulan, sayangnya saya hanya melihat ke depan, niat ganti celana itu untuk mencegah lintah tetapi saya tetap tidak sadar kesuksesan lintah itu meskipun saya agak merasakan sedikit sakit kaki kanan yang saya anggap biasa-biasa saja.
Kejutan Kesepuluh
Di sinilah ditemukan terminologi PaCe'
Saya menemani chef Khairul dan Arti memasak makan siang tumis tumbuhan hutan dan mie rebus goreng, sebelumnya mereka telah membuatkan teh manis hangat untuk kami. Tentu dalam perjalanan meskipun Pak Imam berstatus sebagai peserta, tetapi nasihatnya sangat membantu kami. Tidak dapat disangkal bahwa perbekalan yang kami temukan tidak mampu mengisi tenaga jika hanya mengandalkan tanaman hutan, hingga kami memutuskan untuk mengkombinasikan masakan. Sementara Arif dan Agam mencari kayu bakar, Mas Bamon mulai menghadapi permasalahan karena kami semua mengetahui ia takut terhadap Pacet dan Mas Bamon membuat terminologi Pacet sebagai Pa ce’. Alhasil, setiap kami memiliki kesempatan maka Mas Bamon akan kami kejutkan dengan itu, hihi Mas Bamon bahkan diminta Arif untuk menghapus tattoo-nya.
This is it,the most delicious noodle ever
Insiden kecil terjadi, karena tergoda untuk mencicipi the most delicious forest noodle ever itu, kami lupa bahwa Arif dan Idham sedang mengambil air, sehingga mie rebus goreng dimasak kembali, tapi tidak sebagai   the most delicious forest noodle.
Lalu kami mendapatkan materi soal bivak, dan membuat simulasi bivak.Lucunya karena bivak yang kami buat sangat imut dan kami ingin segera menyelesaikan saat itu, maka kami berjongkok seluruhnya masuk ke dalam bivak yang kami buat, dan meyakinkan pada instruktur bahwa bivak tersebut cukup untuk menampung kami, hihi. After that, kami terlibat dalam permainan yang sangat membuat  lapar (kata Arif), padahal hanya menurunkan tiang tenda saja-.-. Perjalanan pun kami lanjutkan.
Kejutan Kesebelas
Jalan yang kami lalui berbatu, tadinya menurun kemudian menanjak, nyayian pun berlalu dalam tempo patah-patah dan melambat. Rupanya banyak orang yang berwisata ke lokasi yang kami daki, dan meskipun curiga bahwa kami sedang dibawa berputar-putar, tapi kami menikmati itu. Apa yang kami lakukan itu bukanlah traveling, tetapi hiking menyelamatkan hal yang kecil, dimulai dari diri sendiri untuk menyelamatkan Indonesia (cieee, oke cynn lanjut lagi boo). Hingga saya merasa familiar dengan tempat kami berkemah selanjutnya, yap, saya pernah ke sana sebelumnya. Tetapi tidak dengan perjalanan serumit ini. Saat saya ingin melepaskan celana, sementara rekan-rekan lain sibuk membangun tenda saya terkejut melihat darah dan bertanya dalam hati, apakah saya haid?
Teriakan saya membuat Agam, Arif dan Khairul menghampiri untuk melihat, tetapi karena tidak ada apa-apa pada bagian yang saya mohon bantuan pada mereka unuk mengatasi, mereka kembali bekerja. Rupanya saya penasaran dan benar, bulatan cantik jejak lintah menghiasi kaki saya (lebai sih, tapi wajar mas Bamon takut karena kekenyalan lintah/Pacet itu sungguh menggelikan dan mereka sangat setia untuk menghisap darah hingga sulit dilepaskan tepi kembali soal sugesti setelah itu saya mulai demam).
Kornet, mis goreng dan abon
Atas saran medis dan Wulan, saya segera menuju kamar mandi-tetapi tidak jadi mandi karena khawatir tubuh akan semakin melemah tapi saya hanya mengganti pakaian dan sedikit membersihkan celana-agar tidak terkesan tembus, hha. Makan malam dilakukan dengan romantis kembali di atas daun pisah yang dibuat berderet dengan kelompok lain. Setelah makan kornet, mie goreng dan abon, kami bercengkrama mengelilingi api di depan tenda, hmm kami menyanyikan lebih dari 30 lagu-kebanyakan sih Reff nya saja yang kami tahu. Rupanya suara2 hati dan suara tim ini tidak kalah dibandingkan artis Ibu Kota, sampai Arif mempromosikan album kami dapat dibeli di tempat sampah terdekat-.-/.
Lagu-lagu yang kami nyanyikan plus sosok Papi Imam memancing beberapa penyelenggara singgah dan ikut bernyanyi di tempat kami. Hingga panita mengumumkan batas waktu pasangan calon pemimpin dan pemimpin daerah untuk keseluruhan kegiatan kami selama enam bulan ke depan. Yup, proses politik terjadi, saya yang sebelumnya merasakan demam terpanggil untuk tidak melewatkan proses ini, kami mengusung Idham sebagai pemimpin bergabung dengan calon dari  kelompok lain dan dukungan dari 3 orang anggota kelompok lain.
Perdebatan akademis terjadi, membuat suasana dinamis, terlebih provokasi di mana-mana. Hasil keputusan bersama menjadi konsekuensi untuk diterima dan menjadi tanggungjawab bagi yang mendapat kepercayaan. Ya, koalisi kami berada  pada peringkat ke-dua, but that’s great enough and unpredictable result. Kita memang suka berkata pedas (bukan hanya masakan pedas) mungkin karena itulah dikatakan mulutmu adalah hatrimaumu (Alhamdulillah kami tidak berpapapasan dengan harimau di sana). Pada intinya malam itu saya ingin sekali tidur di tenda, apa mau dikata solo camp tetap berlangsung meninggalkan tenda yang telah kami buat.
Kejutan Keduabelas
Mengingat keadaan, saya menyampaikan ketidak fit-an saya pada panitia dan keinginan saya untuk tetap ikut solo camp, syukur mereka memperhatikan walaupun sleeping bag tidak ada. Dengan pakaian, kaus kaki, dan matras saya berbaring semalaman dan hanya pulas sesaat itu pun mimpi akan kelompok kami yang sedang memasak. Rupanya pada malam hari ada yang menyelimuti saya dengan kain sarung.
Syukur lagi demam saya menurun, kami kembali memasak menu pagi itu ikan kaleng, abon lele, keripik kentang dan nasi dengan alas daun pisang yang kami cari-sambil bernarsis ria-. Agam mebantu saya menjadi perantara logistik,  Idham dan Mas Bomon menjadi kuncen kayu bakar. Pak Imam membuatkan puisi untuk kami, behhh kerenn puisinya. Minuman masih lengkap kami rasakan ala café, hanya Adit, Khairul, Mega dan Atik sedang bermimpi mengurangi lelah tadi malam sehingga membuat minuman susulan.
Kejutan Ketigabelas
Perjalanan kembali dilanjutkan, bukan hanya berjalan tetapi juga mentafakuri alam. Puncaknya kami berhadapan dengan danau bentukan ribuan tahun lalu, dan kami pun riang apalagi ditraktir Pak Imam makan cilok (aci dicolok) sampai memanggil tukang dan panggulannya. Hihi, dengan rela bin ikhlas Anti, Arif, Mega dan beberapa teman (siapa yang patungan n belum disebut angkat tangan) melakukan swadaya untuk membeli souvenir atas ide Khairul, awalnya saya tidak tertarik karena berasumsi souvenir gelang dll hanya akan saya hilangkan (padahal uang saya dititip ke panitia, hhe). Sementra Agam bahagia sekali dapat menemukan penjual rokok dan membeli sebungkus rokok. Saya dan Khairul (dengan bahasa Sunda) menawar souvenir kami-meskipun ada kejadian uang yang kurang padahal kami telah meminta bonus, Akang yang mempromosikan cangkang asli gunung gede dan gunung Lampung itu baik hati memberikan bonus dagangannya pada kami.
Kemudian, Adit mengumpulkan kami untuk mengerahkan tim perenang maka Idham, Mas Bamon, Khairul, dan Arif yang turun membuat rakit dan mengarungi samudera (alias danau) untuk menyelamatkan harta kami (lebai dikit). Selebihnya membantu mendirikan tiang bendera. Rupanya Adit merasa bersalah hingga ia melamun sepanjang kegiatan (tadinya saya mengira ia rindu kekasihnya di Palembang, ternyata merasa tidak enak karena kami terkena teguran instruktur saat berfoto dan tidak membantu tim bendera).
Tim bendera sudah cukup banyak, setelah membantu seadanya dengan ide yang belum diterima dan kerena koordinasi yang overlap dengan banyaknya orang maka saya memutuskan untuk berteduh dengan Sehaa, dan Mega lalu membeli manisan kedondong. Arti dan Nesti sedang latihan paduan suara persiapan upacara. Lalu saya berkeliling-keliling saja, sambil mengganti baterai kamera yang Idham titipkan. Tetapi selama dititipkan itu saya tidak sempat mengambil gambar apapun. dan melihat tim rakit telah selesai saya mendengar instruktur berkata bahwa mereka tidak dapat berjalan sebelum tiang bendera selesai dibuat, saya sampaikan itu hingga penyelenggara memberikan batas waktu kepada tim bendera.
Sepintas, seorang isntruktur menghampiri saya sembari mengatakan
“ide mbak tadi boleh juga dipakai”, seingat saya saat menyusun bendera pengalaman sebelumnya, cara yang digunakan itu tidak langsung mengankat seluruh tiang, segera saya sampaikan dan presentasikan ke hadapan rekan-rekan.
 Jujur, saat itu saya khawatir diprovokasi agar pekerjaan semakin lama dengan ide yang dibandingkan dengan ide Mas Y, apalagi Pak Imam saat itu membuat saya merasa didukung, sekaligus tidak percaya diri karena ide saya dianggap tidak masuk akal hingga manisan kedondong yang rencananya ingin saya nikmati jadi tersisihkan-.-.  Saya mencoba mengingat proses penaikan bendera yg saya dapatkan sebelumnya, Alhamdulillah rekan2 mempercayai hingga tiang dapat berdiri. Bocoran bahwa tiang bendera dari kayu rotan dapat berdiri dengan mendirikan dari bawah. Tidak sekaligus tiang disatukan tetapi perlahan-lahan dan ada tim yang mengatur keseimbangan bendera dengan tali yang diikat dengan sudut sama rata.
 Kejutan Keempat belas
Kami disirami air oleh penyelenggara, dalam misi penyelamatan, hmm. Upacara penutupan berlangsung kurang hidmat karena beberapa kekocakan yang terjadi. Pelajaran lain yang didapatkan yakni bayangkan saja melihat pohon aren yang buahnya-kulangkaling  kita santap saat Ramadhan telah menjadi kolak nan lezat, kita hanya perlu membayar beberapa ribu rupiah saja (Khairul 2012), so please habiskan makananmu kawan kalau tidak, kita berdosa karena mereka makhluk Tuhan (Bamon, 2012). Betapa Tuhan tidak sia-sia dalam menciptakan, apapun itu, Pa ce sekalipun! Tidak ada yang luput dari pedekate pacet saat itu, setidaknya kami tahu rasanya berkenalan dengan mereka, yiay! Pacet dan lintah menghisap darah kotor dan mereka memiliki sistem yang hati-hati bin bertanggung jawab saat membuka dan menutup daerah hisapan serta memberikan anti racunnya, subhanallah!
  Last, jangan pernah sia-siakan kesempatan untuk membangun networking, dengan siapapun itu dan kenanglah sebagai pengalaman dan perjalanan yang menyentuh! overall we were getting tired as getting happy. There ll always a touching story of a jouney which made us in love, with those experiences!


1 komentar:

Byar Rumongso mengatakan...

i like your notes .., hopefully our activities in "Kaki Gunung Gede" Sukabumi provide experiences that seem to independence and maturity as well as making us more aware of the life..